Wagub Maluku Utara Soroti Pola Pikir Instan dan Digitalisasi sebagai Tantangan Literasi Keuangan
Topikberita.id., Ternate – Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menyoroti pola pikir instan dan pesatnya perkembangan digitalisasi sebagai tantangan dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, terutama generasi muda.
Hal itu disampaikan Sarbin dalam kuliah umum Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2026 di Aula Banau, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Jumat. (4/9/2026)
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia, pimpinan Unkhair, dosen, mahasiswa, serta perwakilan sejumlah sekolah.
Menurut Sarbin, keinginan memperoleh keuntungan secara cepat membuat sebagian masyarakat mudah tergiur dengan tawaran investasi yang menjanjikan hasil besar dalam waktu singkat. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko masyarakat terjebak dalam investasi ilegal atau penipuan.
“Tantangan kita pertama adalah pikiran masyarakat yang sudah terlanjur instan. Ingin cepat mendapatkan sesuatu, ingin cepat kaya, dan begitu mudah percaya terhadap sesuatu yang menjanjikan masa depan meskipun di luar akal sehat,” ujar Sarbin.
Ia mengatakan perkembangan teknologi digital membuat arus informasi semakin cepat. Kemudahan tersebut, kata dia, tidak selalu digunakan untuk tujuan positif karena dapat dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi menyesatkan, termasuk terkait investasi.
“Digitalisasi memberikan manfaat yang besar karena mendukung aktivitas kita dengan cepat dan mudah. Tetapi di sisi lain juga dimanfaatkan oleh kelompok atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab memberikan informasi begitu cepat,” katanya.
Sarbin menyebut sejumlah kasus investasi yang pernah terjadi di Maluku Utara seharusnya menjadi pelajaran bagi masyarakat. Ia meminta masyarakat tidak mudah mengambil keputusan hanya karena tergiur keuntungan yang ditawarkan.
Karena itu, menurut Sarbin, edukasi mengenai literasi keuangan dan pasar modal perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pengetahuan mengenai investasi tidak cukup hanya diberikan melalui teori di ruang kelas, tetapi harus dilanjutkan dengan praktik agar masyarakat memahami mekanisme sekaligus risiko yang menyertainya.
“Teori dalam ruang kelas saja belum cukup. Perlu pengembangan selanjutnya, perlu praktik berkelanjutan sehingga pemahamannya utuh,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan memastikan pengeluaran tidak lebih besar daripada pendapatan.
Sarbin mengatakan prinsip tersebut tidak hanya berlaku bagi individu atau keluarga, tetapi juga dalam pengelolaan pemerintahan. Menurut dia, kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi salah satu dasar untuk mencapai kesejahteraan.
“Prinsipnya, pendapatan lebih besar dari pengeluaran. Dari situlah titik kesejahteraan setiap orang, kesejahteraan masyarakat, dan kesejahteraan sebuah bangsa,” pungkasnya.*(Iksan/red)


Tinggalkan Balasan