Dari Piring ke Perpustakaan: Sinergi Gizi dan Literasi
“Bangsa yang besar bukan hanya mampu mengenyangkan perut rakyatnya, tetapi juga mampu mengenyangkan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan.”
TopikBerita.id., Indonesia sedang menata masa depan. Berbagai program pembangunan terus dijalankan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, salah satunya melalui Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini lahir dari kesadaran bahwa anak-anak yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Namun, sebuah pertanyaan penting patut diajukan: apakah anak yang kenyang otomatis akan menjadi generasi yang cerdas? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Perut yang kenyang memang membuat anak lebih siap mengikuti pelajaran. Akan tetapi, kecerdasan tidak hanya dibangun oleh makanan, melainkan juga oleh kebiasaan membaca, rasa ingin tahu, dan kesempatan untuk terus belajar.
Karena itu, jika negara berupaya menghilangkan rasa lapar melalui makanan bergizi, negara juga perlu memastikan bahwa setiap anak memiliki akses terhadap buku dan budaya literasi. Tubuh membutuhkan makanan, tetapi pikiran juga membutuhkan “gizi” berupa pengetahuan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa gizi yang baik berpengaruh terhadap perkembangan otak, daya konsentrasi, dan kemampuan belajar anak. Anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan atau mengalami kekurangan gizi akan lebih sulit berkonsentrasi dibandingkan anak yang kebutuhan nutrisinya terpenuhi.
Dalam konteks ini, Program Makanan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun, investasi itu akan memberikan hasil yang lebih besar jika dibarengi dengan pembangunan budaya literasi. Sayangnya, tantangan literasi di Indonesia masih belum ringan. Hasil berbagai survei internasional menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan peserta didik Indonesia masih perlu ditingkatkan.
Di banyak daerah, akses terhadap buku berkualitas juga belum merata. Tidak sedikit sekolah yang memiliki perpustakaan dengan koleksi terbatas, bahkan kurang dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang hidup.
Padahal, membaca adalah jendela yang membuka dunia. Dari buku, anak-anak belajar mengenal ilmu pengetahuan, memahami perbedaan, melatih imajinasi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Membaca bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi bekal untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.
Di sinilah pentingnya melihat hubungan antara makanan bergizi dan literasi sebagai satu kesatuan. Makanan memberi energi bagi tubuh, sedangkan buku memberi energi bagi pikiran.
Anak yang sehat akan lebih siap belajar, sementara anak yang gemar membaca akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah generasi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara intelektual.
Karena itu, Program Makanan Bergizi Gratis sebaiknya tidak berhenti pada penyediaan makanan di sekolah. Program ini dapat menjadi pintu masuk untuk membangun budaya belajar. Bayangkan jika setelah menikmati makan siang bersama, anak-anak diajak membaca selama 15 menit.
Bayangkan jika setiap ruang makan sekolah dilengkapi dengan pojok baca yang menarik. Bayangkan jika setiap peserta didik memiliki akses gratis ke perpustakaan digital yang dapat dibuka kapan saja. Kebiasaan kecil seperti itu, jika dilakukan secara konsisten, akan memberikan dampak besar bagi masa depan bangsa.
Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa investasi pada kesehatan dan pendidikan selalu berjalan beriringan. Jepang, misalnya, menjadikan makan siang di sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pembiasaan hidup sehat.
Finlandia menggabungkan layanan pendidikan yang berkualitas dengan akses perpustakaan yang luas dan mudah dijangkau. Pesannya jelas: membangun manusia tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga dengan memperkaya kehidupan intelektualnya.
Indonesia memiliki peluang untuk menempuh jalan yang sama. Program Makanan Bergizi Gratis dapat menjadi awal yang baik, tetapi harus diperkuat dengan gerakan literasi yang menjangkau seluruh anak Indonesia.
Perpustakaan sekolah perlu dihidupkan kembali, taman bacaan masyarakat diperkuat, dan perpustakaan digital diperluas agar buku tidak menjadi barang mewah, melainkan kebutuhan sehari-hari.
Pembangunan manusia pada akhirnya bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi atau tingginya investasi. Pembangunan manusia adalah tentang bagaimana negara memberi setiap anak kesempatan untuk tumbuh sehat, berpikir kritis, bermimpi besar, dan mengembangkan potensinya. Itulah makna sesungguhnya dari investasi terhadap masa depan.
Dari piring ke perpustakaan, sesungguhnya kita sedang menempuh satu perjalanan yang sama: membangun manusia Indonesia seutuhnya. Sebab bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang berhasil menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bangsa yang mampu menumbuhkan kebiasaan belajar.
Ketika setiap anak dapat menikmati makanan bergizi sekaligus membaca buku dengan bebas, saat itulah kita sedang menanam benih bagi lahirnya Indonesia yang lebih cerdas, lebih berdaya saing, dan lebih bermartabat.
Penulis : Dr. Syahril Muhammad (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Maluku Utara)


Tinggalkan Balasan