Jelang Peringatan Hari Anak Nasional 2026, Kanwil Kemenimpas Malut Perkuat Komitmen Pembinaan Anak Binaan
TopikBerita.id., Ternate – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimpas) Provinsi Maluku Utara bersama jajaran mengikuti kegiatan nasional secara daring bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jenderal Polisi (Purn) Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H., serta Staf Khusus Presiden, Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H., dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional yang diperingati pada 23 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom di Aula LPKA Kelas II Ternate, Selasa (21/7/2026), menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap anak-anak yang sedang menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku Utara, Bagus Kurniawan, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi pengingat bahwa anak yang pernah berhadapan dengan hukum tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, pembinaan, serta kesempatan memperbaiki masa depannya.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa kita harus peduli dengan anak-anak binaan yang saat ini pernah salah jalan. Mereka tidak boleh dikucilkan. Mereka harus kita bina, kita didik, kita dampingi, dan kita ayomi,” ujarnya.
Bagus mengungkapkan, berdasarkan data LPKA Kelas II Ternate, kasus yang paling banyak menjerat anak binaan adalah tindak pidana kesusilaan. Sementara kasus penyalahgunaan narkotika hanya melibatkan satu anak binaan.
“Saya melihat dari data yang ada di LPKA Ternate, anak-anak binaan yang paling banyak terlibat tindak pidana kesusilaan. Sementara narkoba hanya satu orang,” katanya.
Ia menjelaskan, hasil koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menunjukkan sejumlah faktor yang mendorong anak melakukan tindak pidana, di antaranya mudahnya memperoleh minuman keras, kondisi keluarga yang tidak harmonis, serta minimnya pembinaan karakter.
“Faktornya yang pertama adalah banyaknya minuman keras yang bisa didapatkan dengan mudah. Kemudian hubungan keluarga yang tidak harmonis, akhirnya mereka menjadikan pelarian,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan karakter harus menjadi fokus utama dalam proses pembinaan anak. Perubahan karakter, kata dia, membutuhkan proses yang panjang, pendampingan, dan keteladanan yang berkelanjutan.
“Ke depan kita perlu melakukan pendidikan karakter terhadap anak-anak binaan. Bukan hanya pendidikan formalitas, tetapi pendidikan yang benar-benar mampu mengubah karakter mereka. Mengubah karakter itu sangat sulit, tetapi harus dilakukan,” ungkapnya.
Bagus juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menangani persoalan anak yang berhadapan dengan hukum. Pemerintah daerah, akademisi, relawan, Balai Pemasyarakatan (Bapas), hingga Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dinilai harus bekerja sama mencari akar persoalan sekaligus solusi yang tepat.
“Perlu kerja sama seluruh stakeholder, baik pemerintah daerah, akademisi, relawan maupun kami di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Kita harus berkolaborasi mencari benang merah mengapa anak-anak melakukan tindak pidana, sehingga dapat ditemukan solusi bersama,” ujarnya.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional 2026, Bagus berharap Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara semakin menjadi daerah yang ramah anak, serta mampu memberikan perlindungan, pembinaan, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yang pernah berhadapan dengan hukum.
“Kita cari jalan solusinya bersama-sama sehingga Ternate dan Maluku Utara pada umumnya menjadi kota yang ramah anak dan provinsi yang peduli dengan anak,” pungkasnya.*(Ican/red)


Tinggalkan Balasan