Uang Saku dan Transportasi Tidak Sesuai, Kafila Haltim Minta Evaluasi Panitia Daerah
TopikBerita.id., Haltim – Besaran uang saku dan biaya transportasi peserta Kafilah Kabupaten Halmahera Timur pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ Ke – XXXI) Tingkat Provinsi Maluku Utara di Sofifi menuai kritik. Sejumlah peserta menilai nominal yang diberikan jauh lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu Kafilah Kabupaten Halmahera Timur berinisial N.S mengaku kecewa karena peserta MTQ hanya menerima Rp. 1 juta selama mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut N.S, uang saku dan biaya transportasi MTQ atau STQ tingkat provinsi pada tahun-tahun sebelumnya biasanya berkisar Rp. 2,5 juta hingga Rp. 3 juta per peserta.
“Jika dihitung, kurang lebih uang saku sebesar Rp. 800 ribu dan biaya transportasi Rp. 200 ribu untuk peserta rute Ternate-Sofifi,” ujarnya kepada media ini , Sabtu 27 Juni 2026.
Ia menyoroti kebijakan pembagian biaya transportasi yang dinilai tidak adil berdasarkan jarak tempuh. Peserta yang tinggal di Ternate dan peserta yang kembali ke Haltim sama-sama menerima Rp. 1 juta. Sementara transportasi peserta Haltim disediakan panitia daerah.
“Peserta yang tinggal di Ternate menerima uang saku Rp. 1 juta. Sementara yang pulang ke Haltim juga menerima Rp. 1 juta, tetapi transportasi mereka sudah disediakan oleh panitia daerah, kalau peserta yang tingal di Ternate tidak disediakan.” ungkapnya.
N.S juga menyinggung kebijakan efisiensi anggaran yang diduga berdampak pada pembiayaan peserta. Ia menilai jika Pemkab Haltim mengalami keterbatasan anggaran, jumlah peserta yang dikirim seharusnya disesuaikan.
“Peserta pada cabang tertentu seperti 20 juz atau 30 juz bisa saja dikurangi untuk memaksimalkan pembiayaan selama pelaksanaan MTQ, sehingga tidak terkesan mengecewakan peserta,” katanya.
Sejumlah peserta Kafilah lainnya juga mengaku kecewa terhadap kebijakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur terkait besaran uang saku dan transportasi tersebut.
Meski menyoroti pembiayaan, N.S tetap mengapresiasi pelayanan konsumsi selama MTQ berlangsung.
“Pelayanan makan dan minum sudah bagus. Permasalahan utama hanya pada biaya transportasi dan uang saku peserta,” ujarnya.
Ia membandingkan pelayanan saat ini dengan masa kepemimpinan pejabat Kesra sebelumnya, Muhammad Abdullah, yang dinilai lebih baik dalam melayani peserta MTQ.
“Pemerintah perlu melakukan evaluasi agar pelayanan kepada peserta MTQ ke depan bisa lebih baik dan tidak mengecewakan peserta,” pungkasnya.*(sukri/red)


Tinggalkan Balasan