Napak Tilas Perang Dunia II Di Wasile Tengah: Warisan Sejarah Yang Tertidur
Opini – Momentum HUT Halmahera Timur ke-23
TopikBerita.id., Selamat HUT ke-23 Kabupaten Halmahera Timur. Di usia yang semakin matang ini, kita semua berharap “Halmahera Timur Berbenah” bukan sekadar slogan, tapi nyata dalam setiap langkah pembangunan. Salah satu langkah itu bisa dimulai dari menoleh ke belakang: menyelamatkan dan menghidupkan warisan sejarah yang ada di tanah kita sendiri.
Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur. Fokusnya: persinggungan sejarah Perang Dunia II 1942-1945 dan potensi wisata sejarah di Kecamatan Wasile Tengah, khususnya Desa Hatetabako, Lolobata, Bokima’ake, dan Nyaolako.
1. Tinjauan Historis: Teluk Kao, “Tokyo Kedua” yang Gagal.
Masuknya Jepang ke Indonesia dimulai Desember 1941 lewat Pearl Harbor. Hindia Belanda ikut terseret perang, dan Indonesia jadi target. Januari 1942 Jepang mendarat di Tarakan, Balikpapan, hingga Maluku Utara 7-8 April 1942.
Di Halmahera, Jepang pertama kali masuk Teluk Kao pada 17 April 1942 lewat Desa Tahane. Sejak itu kawasan ini berubah jadi markas besar Angkatan Laut Jepang untuk Maluku Utara. Antara 1942-1943, Teluk Kao ditempati 62.000 pasukan dan 300 pesawat tempur. Fasilitas militer dibangun besar-besaran: sumur, _lofra atau gua perlindungan, bunker, pelabuhan kapal perang, dan lapangan terbang Kuabang.
Tradisi lisan masyarakat menyebut Wasile Tengah sebagai salah satu pangkalan militer Jepang terbesar di Indonesia. Bahkan Teluk Kao sempat dijanjikan jadi “Tokyo Kedua” jika Jepang menang perang. Janji itu runtuh bersama bom Hiroshima-Nagasaki 1945. Jepang pergi, tapi jejaknya tertinggal.
Di balik megahnya benteng itu ada luka. Rakyat dari berbagai daerah di Maluku Utara dikerahkan paksa jadi romusha. Kerja berat, tanpa upah, tanpa jalan pulang. Penderitaan itu baru berhenti ketika Sekutu datang dan membombardir basis Jepang dari Morotai.
2. Tinjauan Arkeologi: Bunker, Gua, dan Meriam yang Terlupakan
Hari ini, Wasile Tengah menyimpan ratusan peninggalan fisik Perang Dunia II yang masih minim perlindungan. Diantaranya adalah: 5 bunker Jepang, 2 di pesisir Hatetabako menghadap Teluk Kao, 2 di lereng Gunung Lolobata, 1 di Desa Foly. Ratusan gua atau lofra tersebar di Lolobata, Foly, Hatetabako, Bokima’ake. Ada 2 bandara pesawat di perbatasan Bokima’ake-Hatetabako, 1 lagi di Nyaolako, plus meriam, sumur beton, peluru, hingga sisa obat-obatan.
Sayangnya, sebagian situs sudah hancur, dijual, atau terbengkalai. Belum ada riset spesifik yang komprehensif. Padahal ini bukan sekadar tumpukan beton dan karat. Ini arsip hidup tentang perang, penderitaan, dan strategi militer di Pasifik.
Tulisan terbatas ini saya ajukan sebagai langkah awal: ajakan untuk melindungi situs-situs itu dan mengundang peneliti, arkeolog, serta pegiat sejarah melakukan kajian mendalam di Wasile Tengah.
3. Tinjauan Wisata Sejarah: Dari Reruntuhan ke Ekonomi Rakyat
Wisata sejarah bukan nostalgia kosong. UNESCO 2009 menyebutnya kegiatan yang melibatkan kenangan masa lalu, warisan budaya, dan peninggalan sejarah. Bagi daerah, ia bisa jadi ciri khas dan penggerak ekonomi. Data Kemenpar 2019 mencatat pertumbuhan wisatawan mancanegara ke Indonesia naik 17% dan 13%. Pariwisata terbukti mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menekan kemiskinan.
Hatetabako, Lolobata, Foly, Bokima’ake, Nyaolako punya paket lengkap: bunker tepi pantai, gua perang di lereng gunung, sisa bandara, dan pemandangan Teluk Kao. Jika dikelola, ini bisa jadi destinasi “napak tilas” yang menarik turis domestik maupun mancanegara pecinta sejarah militer.
Karena itu, di momentum HUT ke-23 ini saya menawarkan 2 hal kepada Pemda Halmahera Timur: Pertama,tindak lanjuti konsep wisata sejarah di Wasile Tengah. Lakukan pemetaan, perlindungan, dan interpretasi situs agar layak dikunjungi. Kedua, berkolaborasi dengan Pemda Halmahera Utara. Kao dan Wasile Tengah punya potensi sejarah yang satu garis. Paket wisata lintas kabupaten akan lebih kuat dan berdampak.
Sejarah bukan untuk diratapi, tapi untuk dipelajari dan dimanfaatkan. Bunker yang dulu jadi tempat bertahan, kini bisa jadi tempat rakyat bertahan hidup lewat ekonomi wisata. Reruntuhan perang bisa berubah jadi fondasi kemajuan.
Halmahera Timur berbenah dimulai dari menghargai jejak yang ditinggalkan. Mari kita jaga, kita kaji, dan kita hidupkan. Karena bangsa yang maju adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.
__________________________________________________
Penulis: Muhajir Rasid (Ketua Yayasan Fasigaro Maluku Utara)


Tinggalkan Balasan