Nilai Tukar Rupiah Lemah, Produk Lokal Jadi Penyangga Inflasi di Malut
TopikBerita.id., Ternate – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku Utara memastikan terus bergerak cepat melakukan langkah stabilisasi agar pergerakan mata uang tetap terkendali. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Malut, Handi Susila, usai kegiatan Kie Raha Economic Forum yang berlangsung di Kantor Bank Indonesia Pada Rabu (20/05/2026)
Nilai tukar Rupiah tertekan dan melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.700 per Dolar Amerika Serikat. Kondisi ini dipicu oleh gabungan tekanan kondisi global maupun faktor dalam negeri yang terjadi bersamaan.
Kepala Kantor Perwakilan BI Malut, Handi Susila, mengatakan tekanan terbesar terhadap Rupiah saat ini bersumber dari dinamika ekonomi global. Pemicu utamanya adalah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
” Kondisi ini memberikan beban berat bagi pasar keuangan internasional, dan turut menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia”. Ujarnya.
Menurutnya, selain pengaruh eksternal, terdapat pula faktor domestik yang turut memperbesar permintaan valuta asing, antara lain pembayaran repatriasi dividen, pelunasan utang luar negeri, serta lonjakan kebutuhan Dolar Amerika Serikat saat musim haji.
Ia, menambahkan Bank Indonesia dengan berbagai instrumen kebijakan telah ditempatkan untuk menahan laju pelemahan Rupiah, mulai dari melakukan intervensi di pasar spot maupun pasar Non Deliverable Forward (NDF), hingga memperkuat daya tarik aliran modal masuk melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Lebih lanjut, Handi, menilai dampak pelemahan nilai tukar ini belum berpengaruh signifikan terhadap angka inflasi di wilayah Maluku Utara.
Karna mayoritas komoditas penyumbang inflasi didominasi oleh hasil bumi dan produk pangan lokal, sehingga tidak terlalu bergantung pada barang impor yang harganya paling cepat terpengaruh gejolak mata uang.
Namun pihaknya akan terus mencatat dan mengawasi perkembangan ini secara ketat, serta bersinergi dengan pemerintah daerah untuk senantiasa menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan nilai tukar Rupiah di wilayah Maluku Utara.*(sukri/red)


Tinggalkan Balasan