TopikBerita.id., Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) merupakan ajang yang selalu dinanti, bukan hanya sebagai wadah mengukur kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an, melainkan juga sebagai sarana silaturahmi, pengembangan potensi, dan syiar nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Namun, pelaksanaan MTQ ke XII yang digelar di Desa Lolobata, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, justru menyisakan kekecewaan dan kontroversi yang mendalam. Apa yang seharusnya menjadi cermin akhlak mulia dan keadaban, ternyata diwarnai tanda tanya besar yang mencoreng tujuan mulia acara itu.

Puncak kontroversi muncul saat pengumuman hasil penilaian. Sebagai tuan rumah, Kecamatan Wasile Tengah mencatatkan perolehan yang terbilang sangat dominan: meraih 11 juara pertama, 5 juara kedua, 1 juara ketiga, serta beberapa juara harapan. Angka yang nyaris sempurna ini seolah memastikan posisi mereka sebagai juara umum tanpa perdebatan.

Namun, kenyataan menjadi berbeda saat kita melihat hasil kecamatan lain yang dinobatkan sebagai juara umum. Kecamatan tersebut hanya mengantongi 5 juara pertama, namun entah dengan perhitungan apa, mereka disebut sebagai pemenang utama. Ketimpangan ini memicu dugaan kuat adanya kecurangan dan ketidakadilan dalam penentuan hasil—inilah yang saya sebut sebagai sisi gelap yang tersembunyi di balik panggung megah acara ini.

Masalah tidak berhenti pada hasil penilaian. Kinerja kepanitiaan juga menjadi sorotan tajam karena dinilai jauh dari standar layanan yang layak. Kurangnya komunikasi dan koordinasi terasa di setiap tahapan acara, hingga menyusahkan banyak pihak yang sebenarnya telah bersusah payah mendukung kelancaran kegiatan. Contoh nyata terlihat pada persiapan malam penutupan.

Kelompok seni cokaiba yang seharusnya tampil menghibur dan memperindah acara justru mendapatkan pelayanan yang buruk dan tidak pantas. Hal yang sama dialami oleh para siswa dari SMP Negeri 1 Wasile dan SMA Negeri 6 Halmahera Timur. Mereka dengan sukarela dan penuh semangat dipersiapkan untuk menampilkan tarian Lalayon karya budaya yang indah namun justru diperlakukan dengan sikap yang kurang baik dan kurang menghargai dari pihak panitia.

Berbagai kekurangan dan ketidakwajaran ini hanyalah sebagian kecil dari banyak hal yang terjadi. Banyak pihak yang menilai, pelaksanaan MTQ ke XII di Desa Lolobata ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah penyelenggaraan MTQ di Halmahera Timur.

Sangat ironis mengingat tema yang diusung tahun ini adalah “Membentuk Insan Qur’an yang Humanis dan Berkeadaban”. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan manusia yang beradab, berhati manusiawi, dan mencintai kebenaran, jika di dalam ajang yang berlandaskan Al-Qur’an sendiri masih tumbuh subur praktik penyelewengan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian terhadap orang lain?

Kisah kelam ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur dan khususnya Bidang Kesra.

Ke depan, pembentukan panitia penyelenggara maupun pemilihan dewan hakim harus dilakukan dengan lebih teliti, cermat, dan matang. Kita tidak boleh lagi membiarkan kepentingan kelompok atau ketidakprofesionalan merusak kemurnian ajang ini.

Hanya dengan cara itu, cita-cita besar dari tema MTQ—menciptakan insan Qur’an yang benar-benar beradab dan manusiawi—bisa kita wujudkan dengan nyata, bukan sekadar tulisan indah di atas spanduk acara.

 

 

__________________________________________________

Penulis: Muhajir Rasid (Pemuda Desa Lolobata)