Penyaluran BBM Nelayan Ternate Utara, Tengah dan Pulau Hiri Lancar, SPBUN Minta Tambahan Kuota Subsidi
Topikberita.id., Ternate – Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi nelayan di wilayah Ternate Utara, Ternate Tengah hingga Pulau Hiri berjalan lancar. Namun, kuota Pertalite yang tersedia dinilai mulai pas-pasan seiring bertambahnya jumlah armada nelayan.
Pengawas SPBUN Sinar Mutiara Jaya, Kelurahan Dufa-Dufa, Erlan, mengatakan alokasi BBM bersubsidi jenis Bio Solar untuk nelayan ditetapkan sebanyak 100 kiloliter (KL) per bulan. Sementara untuk Pertalite, kuota yang tersedia mencapai 65 KL per bulan.
Menurut Erlan, penyaluran Pertalite kepada nelayan dilakukan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa dan Kamis.
“Saat ini tercatat ada sekitar 98 nelayan terdaftar yang aktif mengambil pasokan dari wilayah Ternate Utara, Ternate Tengah, hingga Pulau Hiri. Dengan kuota Pertalite sebanyak 65 KL, kami membaginya secara bergilir agar seluruh nelayan tetap terakomodasi,” ujar Erlan, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, mekanisme distribusi BBM saat ini telah menggunakan sistem X-Star untuk mencatat jatah masing-masing nelayan. Sistem tersebut membantu memastikan penyaluran sesuai alokasi yang telah ditetapkan.
Meski penyaluran berjalan lancar, Erlan menyebut kebutuhan BBM mulai meningkat seiring bertambahnya armada nelayan. Kondisi tersebut salah satunya didorong oleh program pemerintah daerah dalam memperkuat sektor perikanan.
“Kuota yang ada sekarang mulai terasa pas-pasan. Kami berharap kuota Pertalite dapat ditingkatkan hingga 80 atau 85 KL per bulan,” katanya.
Keluhan mengenai keterbatasan jatah BBM juga dirasakan langsung oleh nelayan di lapangan. Ridwan, salah seorang nelayan asal Pulau Hiri, mengatakan jatah BBM yang diterimanya saat ini mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Dulu sebelum kuota diperketat, kami bisa mendapat 8 sampai 10 jeriken, sekitar 150 sampai 200 liter, untuk sekali melaut. Sekarang rata-rata hanya dapat 4 jeriken,” ungkap Ridwan.
Menurutnya, jumlah tersebut cukup terbatas karena sekitar dua jeriken sudah digunakan untuk mengisi tangki perahu. Sementara dua jeriken lainnya harus digunakan untuk perjalanan menuju lokasi penangkapan ikan yang bisa berjarak cukup jauh.
“Kalau hanya tersisa 2 jeriken, sangat berisiko untuk menempuh jarak pancing yang jauh hingga 10 sampai 12 mil,” ujarnya.
Karena itu, Ridwan bersama nelayan lainnya di Pulau Hiri berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menambah jatah pengisian BBM bagi nelayan.
“Kami berharap jatah pengisian minimal bisa menjadi 6 jeriken atau sekitar 150 liter,” katanya.
Ridwan menilai ketersediaan BBM yang cukup sangat penting untuk mendukung keselamatan dan kelancaran aktivitas nelayan, terutama ketika harus melaut menghadapi kondisi gelombang dan cuaca yang berubah-ubah.
“Pasokan BBM yang cukup sangat krusial untuk menjamin keselamatan serta kelancaran operasional nelayan saat menghadapi gelombang dan cuaca di laut lepas,” pungkasnya.(Iksan/red)


Tinggalkan Balasan