Peringati World Investor Week 2026, OJK Bersama BEI Edukasi Literasi dan Inklusi Keuangan Kepada Mahasiswa HMI Ternate
Topikberita.id., Ternate – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Utara bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Maluku dan Phintraco Sekuritas Cabang Ambon menggelar edukasi literasi dan inklusi keuangan pasar modal bagi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Ternate, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati World Investor Week (WIW) 2026 ini mengusung tema “Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert”. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan dan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GenCarkan).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar pasar modal, investasi syariah, praktik transaksi saham, serta cara mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan investasi di era digital.
Asisten Direktur OJK Provinsi Maluku Utara, Sukma Aji Wirawan, mengingatkan mahasiswa agar menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
“Pastikan setiap produk keuangan memenuhi prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis sebelum memutuskan untuk berinvestasi,” pesan Sukma.
Ia menjelaskan, OJK memiliki tugas mengatur, mengawasi, dan melindungi kegiatan di sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, hingga industri keuangan non-bank.
Menurut Sukma, pasar modal merupakan sarana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan pendanaan jangka panjang dengan masyarakat yang ingin berinvestasi melalui berbagai instrumen, seperti saham, reksa dana, obligasi, dan sukuk.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk mewaspadai tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat tanpa risiko. Modus tersebut kerap menggunakan skema member-get-member maupun mencatut nama tokoh masyarakat untuk menarik korban.
Untuk mengantisipasi praktik tersebut, Sukma mengajak peserta melaporkan indikasi aktivitas keuangan ilegal melalui Kontak OJK 157, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melalui iasc.ojk.go.id, serta SIPASTI melalui sipasti.ojk.go.id.
Sementara itu, Deputi Kepala Wilayah Maluku dan Maluku Utara Bursa Efek Indonesia, Rahma Artika Salampessy, menekankan pentingnya investasi sebagai salah satu upaya mengantisipasi dampak inflasi, menghadapi ketidakpastian masa depan, serta mempersiapkan pemenuhan kebutuhan di kemudian hari.
Dalam materi bertajuk “Mengenal Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia”, Rahma memperkenalkan filosofi “Paham, Punya, Pantau” sebagai panduan sederhana bagi masyarakat yang ingin memulai investasi.
Ia menjelaskan, pasar modal syariah berlandaskan prinsip Islam, antara lain menghindari riba, gharar atau ketidakjelasan, serta maysir atau unsur perjudian. Selain itu, kegiatan dan objek transaksi harus memenuhi ketentuan syariah.
Rahma juga memaparkan perkembangan investasi syariah di Indonesia, termasuk penerbitan Daftar Efek Syariah (DES) oleh OJK setiap Mei dan November sejak 2007. Menurut pemaparannya, jumlah emiten yang masuk dalam kategori syariah telah mencapai 622 emiten.
Produk investasi syariah di pasar modal semakin beragam, meliputi saham syariah, reksa dana syariah, sukuk, hingga Exchange Traded Fund (ETF) syariah.
“Investasi saham bukan judi maupun forex, melainkan bukti kepemilikan sah atas suatu perusahaan yang dikenal dalam prinsip syariah sebagai musyarakah atau syirkah,” jelas Rahma.
Ia menambahkan, akses investasi saham saat ini semakin mudah dibandingkan satu dekade lalu sehingga memberikan peluang lebih luas bagi masyarakat, termasuk generasi muda, untuk mengenal pasar modal.
Pada sesi berikutnya, Branch Representative Phintraco Sekuritas Cabang Ambon, Muh Sahril G Bugis, mengajak mahasiswa mempraktikkan secara langsung proses pembukaan rekening efek dan simulasi transaksi saham melalui aplikasi.
Sahril menjelaskan, Phintraco Sekuritas merupakan anggota Bursa Efek Indonesia yang telah meraih delapan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Perusahaan tersebut memiliki lebih dari 100 ribu investor, dengan 27 kantor cabang dan 368 galeri investasi di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah Maluku.
Ia menyebutkan, investasi saham kini semakin terjangkau. Jika pada era 1990-an modal awal investasi saham dapat mencapai puluhan juta rupiah, saat ini masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan modal sekitar Rp100 ribu, dengan biaya transaksi yang lebih rendah.
Selain itu, Sahril memaparkan perlindungan aset investor melalui Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF), yang memberikan perlindungan terhadap aset pemodal berupa efek dan dana tunai pada Rekening Dana Nasabah (RDN) sesuai ketentuan yang berlaku.
“Mulailah berinvestasi dengan trading plan yang jelas, pilih perusahaan terbaik, lakukan analisis saham, dan rutin memantau perkembangan pasar,” pesannya.
Melalui simulasi pembelian saham secara langsung, mahasiswa berkesempatan memahami tahapan transaksi sekaligus mengenal proses awal berinvestasi di pasar modal.
Antusiasme mahasiswa HMI Cabang Kota Ternate terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, terutama saat sesi praktik pembukaan rekening efek dan simulasi transaksi saham.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Sekolah Pasar Modal dalam rangkaian World Investor Week 2026 ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda Maluku Utara untuk berinvestasi secara bijak, memahami risiko, serta memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan prinsip yang dianut.
Selain memperluas inklusi keuangan di sektor pasar modal, khususnya investasi syariah, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan mahasiswa terhadap penipuan dan berbagai modus investasi ilegal di tengah perkembangan layanan keuangan digital.*(Tim/red)


Tinggalkan Balasan