Topikberita.id., Ternate – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara menggelar media gathering dan site visit bersama sejumlah awak media di Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi PLN untuk memperkenalkan secara langsung sistem kelistrikan, aset transmisi, gardu induk, serta berbagai upaya pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan listrik di wilayah Ternate dan Tidore.

Salah satu lokasi yang dikunjungi dalam kegiatan tersebut yakni kantor Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Ternate di Kelurahan Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan.

Manager ULTG Ternate, Cahyo Tri Hartoyo, menjelaskan ULTG Ternate merupakan unit layanan transmisi dan gardu induk yang berada di bawah UP3B Maluku yang berkedudukan di Ambon.

Ia menyebutkan, PLN memiliki sejumlah aset kelistrikan di wilayah Ternate, di antaranya Gardu Induk Kastela dan GIS Ternate. Selain itu, terdapat jaringan transmisi sepanjang sekitar 15,5 kilometer yang ditopang 23 tower.

“Untuk sistem Ternate-Tidore sendiri, per Agustus kemarin daya mampu pasoknya sekitar 61 megawatt. Kemudian beban puncak tertinggi di Ternate sekitar 50 megawatt. Jadi kita masih memiliki cadangan sekitar 11 megawatt,” jelas Cahyo.

Menurutnya, sistem kelistrikan Ternate-Tidore juga mendapat dukungan dari sejumlah pembangkit, di antaranya PLTD Kaimera, PLTM Kastela, PLTD Tidore, serta PLTD sewa yang berada di Kastela.

Sementara itu, interkoneksi sistem kelistrikan Ternate dan Tidore berada di GIS Ternate. Penyaluran listrik menuju Tidore dilakukan melalui dua kabel laut yang menghubungkan sistem Ternate dengan PLTD Tidore.

Cahyo mengatakan, jaringan transmisi di Ternate membentang dari kawasan Kastela hingga GIS Ternate dengan panjang sekitar 15,5 kilometer. Jalur tersebut melewati sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir hingga kaki gunung.

“Untuk jaringan transmisi kita ada sekitar 23 tower dengan panjang kurang lebih 15,5 kilometer. Jalurnya dari Kastela sampai GIS Ternate,” ujarnya.

Untuk menjaga keandalan sistem, PLN secara rutin melakukan pemeliharaan dan rehabilitasi terhadap berbagai peralatan di gardu induk. Peralatan tersebut antara lain sistem proteksi, pemutus tenaga, peralatan pengukuran hingga kubikel yang berfungsi mengatur dan memutus aliran listrik menuju penyulang tegangan menengah.

Khusus Gardu Induk Kastela yang berada di kawasan pesisir, pemeliharaan dilakukan secara intensif. Hal ini karena peralatan kelistrikan rentan terdampak penggaraman akibat lingkungan laut.

“Di GI Kastela ini banyak peralatan, mulai dari peralatan untuk proteksi, untuk pemutus, untuk pengukuran. Kita harus menjaga aset kita, jadi kita melakukan rehabilitasi, pemeliharaan, dan kebersihan saluran di GI Kastela,” kata Cahyo.

Ia menambahkan, posisi Gardu Induk Kastela yang berada di pinggir laut membuat efek penggaraman menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kondisi peralatan.

“Terutama karena GI Kastela ini pinggir laut, jadi banyak efek penggaraman karena berada di pinggir laut,” sambungnya.

Selain Gardu Induk Kastela, PLN juga memiliki GIS Ternate yang menggunakan teknologi Gas Insulated Substation (GIS). Berbeda dengan Gardu Induk Kastela yang menggunakan teknologi Air Insulated Substation (AIS), GIS Ternate memiliki konstruksi yang lebih kompak karena menggunakan gas SF6 sebagai media isolasi di dalam kompartemen.

Menurut Cahyo, teknologi GIS umumnya digunakan di wilayah perkotaan karena membutuhkan lahan yang lebih sedikit dibandingkan gardu induk konvensional.

Untuk memastikan kondisi aset tetap andal, PLN juga rutin melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan jaringan transmisi. Pemeriksaan dilakukan secara manual maupun menggunakan teknologi drone yang dilengkapi kamera thermal.

Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi anomali maupun potensi hotspot pada sejumlah peralatan dan jaringan transmisi.

“Pemeliharaan jaringan transmisi rutin kita lakukan, termasuk pembersihan isolator dan perbaikan hotspot. Kita juga menggunakan drone yang sudah dilengkapi thermovision untuk mengecek anomali-anomali pada tower,” jelasnya.

Melalui kegiatan media gathering dan site visit ini, PLN memberikan gambaran kepada media mengenai kondisi sistem kelistrikan Ternate-Tidore, termasuk kapasitas pasokan, cadangan daya, aset transmisi serta langkah pemeliharaan yang dilakukan untuk mendukung keandalan listrik bagi masyarakat.

Dengan daya mampu pasok sekitar 61 megawatt dan beban puncak sekitar 50 megawatt berdasarkan kondisi per Agustus 2026, sistem Ternate-Tidore masih memiliki cadangan daya sekitar 11 megawatt.*(Tim/red)