Halmahera Selatan – Di sebuah pagi yang tenang di Pantai Ngokomalako, Kecamatan Kayoa Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, perpisahan antara seorang ayah dan anak menjadi momen yang tak terlupakan. Air mata yang jatuh di tepi pantai itu menjadi saksi perjuangan seorang ayah sederhana yang rela melakukan apa saja demi masa depan buah hatinya.

Kisah ini dialami Hardianto Gaus pada tahun 2013, sesaat setelah dirinya menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tahane, yang kini dikenal sebagai MAN 1 Halmahera Selatan, di Desa Dauri, Kecamatan Pulau Makean.

Seperti kebanyakan lulusan SMA lainnya, Hardianto memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuat impian tersebut perlahan ia kubur. Ia memilih berpikir untuk membantu orang tua dan bekerja di kampung halaman.

“Saya ingin kuliah seperti teman-teman yang lain, tetapi saya merasa kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan,” kenangnya.

Harapan yang nyaris padam itu berubah pada suatu malam sekitar pukul 02.00 WIT. Ayahnya membangunkan dirinya dan sang ibu untuk berbicara di ruang tamu rumah sederhana mereka yang hanya diterangi lampu loga-loga.

Dalam suasana hening, sang ayah menyampaikan satu kalimat yang mengubah jalan hidupnya.

“Ngana harus kuliah,” ujar sang ayah.

Tak lama kemudian, ayahnya kembali dan menyerahkan uang sebesar Rp150 ribu yang akan digunakan sebagai ongkos perjalanan mencari informasi pendaftaran kuliah.

“Itu ngana pe tiket. Pergi cari informasi pendaftaran kuliah. Nanti kabari papa, nanti papa kirim uang untuk pengurusan,” katanya.

Bagi Hardianto, nilai uang tersebut mungkin tidak besar. Namun, di baliknya terdapat keyakinan dan pengorbanan seorang ayah yang percaya pendidikan dapat mengubah masa depan anaknya.

Sebelum keberangkatan, sang ayah kembali memberikan pesan yang hingga kini masih diingatnya.

“Saya mau buktikan bahwa papa mampu kase sekolah ngoni semua. Biar rumah model begini, tapi papa yakin mampu kase sekolah pe ngoni,” tuturnya.

Keesokan harinya, sekitar pukul 07.20 WIT, Hardianto berangkat menuju Ternate menggunakan KM Tiga Lalu. Dengan pakaian rapi sesuai arahan ayahnya, ia diantar hingga ke kapal.

Momen tersebut menjadi perhatian warga yang berada di sekitar pantai. Mereka memberikan doa dan semangat kepada pemuda desa yang akan merantau demi menuntut ilmu.

Namun, momen paling mengharukan terjadi saat kapal hendak berangkat. Di tengah keramaian, sang ayah yang selama ini dikenal tegar tak mampu menahan air mata.

“Ba info di papa, ee,” ucapnya.

Tangis sang ayah pecah. Hardianto yang berada di atas ketinting menuju kapal pun tak mampu membendung air mata.

“Papa, saya pamit dulu. Sehat-sehat terus, Papa,”

balasnya.

Perpisahan itu menjadi terakhir kalinya ia melihat kampung halaman sebelum memulai perjalanan panjang mengejar pendidikan dan masa depan.

Bagi Hardianto, perjalanan tersebut bukan sekadar keberangkatan menuju bangku kuliah.

Ia membawa doa, harapan, dan pengorbanan kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang dengan segala keterbatasan tetap berjuang agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua orang tua memiliki harta berlimpah. Namun, mereka memiliki cinta, keyakinan, dan pengorbanan yang sering kali menjadi kekuatan terbesar bagi anak-anak untuk meraih cita-cita.

Dari sebuah kampung kecil di Halmahera Selatan, seorang ayah sederhana telah membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya soal biaya, tetapi juga tentang tekad dan harapan yang diperjuangkan dengan sepenuh hati.

 

________________________________________________

Penulis: Hardianto Gaus (Aktivis sekaligus Wartawan)