TopikBerita.id., Ternate – Lemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang kini menembus angka Rp17.500, berdampak langsung pada lonjakan harga bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe, yaitu kedelai impor. Kondisi ini memaksa para produsen di Kota Ternate kembali menaikkan harga jual produk hingga kisaran 12,5 persen.

Pemilik usaha produksi tahu dan tempe UD Kawisari di Kelurahan Jambula, Kota Ternate, Tri Wibowo saat dikonfirmasi menyatakan keputusan ini diambil semata-mata karena beban biaya produksi yang kian membesar dan sulit lagi ditahan.

“Penyebab utamanya jelas kenaikan harga bahan baku dan juga Bahan Bakar Minyak atau BBM yang mempengaruhi seluruh biaya operasional kami,” kata Tri Widodo pada media ini Rabu.(20/05/2026)

Menurutnya kedelai yang digunakan merupakan jenis impor yang berasal dari Brasil, Amerika Serikat, dan Argentina. Sehingga naiknya harga kedelai impor dari sebelumnya Rp10.600 per kilogram menjadi Rp10.800 per kilogram sangat terasa dan langsung menekan biaya operasional usaha.

“Saat ini, satu potong tahu dijual seharga Rp3.000, naik dari harga sebelumnya Rp2.500. Sementara itu, satu bungkus tempe kini dibanderol Rp4.500, naik dari harga lama yang masih di angka Rp4.000 per bungkus” ujarnya

Tri Wibowo, Menjelaskan Meski harga jual dinaikkan, Untuk kualitas maupun kuantitas tidak ada pengurangan, ukuran dan berat setiap potongan tahu maupun tempe dipastikan tetap sama seperti ukuran standar yang biasa diterima konsumen.

Lebih lanjut,kata dia, dampak kenaikan harga ini  tidak hanya dirasakan oleh para pengrajin tahu dan tempe sebagai produsen utama.Tetapi  kenaikan harga ini juga turut membebani para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan tahu dan tempe sebagai bahan baku utama dalam pengolahan makanan dagangan mereka.*(sukri/red)