Topikberita.id., Ternate – Perahu nelayan di Ternate tak lagi dipandang sekadar sebagai alat untuk melaut. Pemerintah mendorong badan perahu menjadi ruang ekspresi seni sekaligus media untuk bercerita tentang sejarah dan identitas budaya Maluku Utara.

Gagasan itu diperkenalkan dalam kick-off lomba melukis perahu nelayan yang mempertemukan nelayan dengan pelukis nasional dan komunitas seniman lokal, yang berlangsung di Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate, Kelurahan Bastiong Talagame, Kecamatan Ternate Selatan, Kamis, (24/9/2026).

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, mengatakan lukisan pada badan perahu dapat memunculkan rasa ingin tahu masyarakat dan wisatawan. Cerita yang dituangkan melalui karya seni, kata dia, dapat menjadi bagian dari promosi visual daerah.

“Kalau melihat kapal dengan adanya cerita-cerita ini, maka mereka bisa muncul sesuatu rasa ingin tahu,” kata Irene.

Irene mengatakan ruang publik dapat menjadi medium baru bagi seniman. Ia mendorong pelukis di Maluku Utara tidak terpaku pada kanvas, tetapi memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia di kota.

“Seniman tidak hanya perlu di rumah dan berbaur dengan kanvas, seniman bisa keluar dari kanvas tersebut mencari bidang-bidang yang ada di seluruh kota kamu dan menorehkan lukisan kamu supaya lebih indah kotanya,” ujarnya.

Menurut Irene, pendekatan serupa telah berkembang melalui street art dan mural di sejumlah negara. Karya seni di ruang publik, kata dia, dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus memperkuat karakter suatu daerah.

Ia mengapresiasi keterlibatan pelukis nasional Erika dan komunitas seniman lokal dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi itu dinilai dapat membuka ruang bagi seniman daerah untuk mengembangkan karya sekaligus memperluas ekosistem ekonomi kreatif.

Sementara Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, mengatakan lukisan pada perahu memberikan makna baru terhadap benda yang selama ini lekat dengan kehidupan nelayan.

“Melalui kegiatan ini, sebuah perahu nelayan dipertemukan dengan karya seni. Dari situlah lahir sesuatu yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki cerita dan identitas tersendiri,” kata Sarbini.

Sarbin juga mengingatkan nelayan penerima bantuan pemerintah agar merawat dan memanfaatkan bantuan tersebut. Ke depan, pemerintah daerah akan mendorong pola bantuan mesin, sementara pengadaan badan perahu diupayakan oleh nelayan atau kelompok nelayan.

Menurut dia, kelompok nelayan dapat memanfaatkan skema Kredit Usaha Rakyat atau KUR untuk pengadaan badan perahu. Pola ini diharapkan mendorong kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Di luar sektor perikanan, Sarbin memperkenalkan potensi wisata dan sejarah Maluku Utara, mulai dari Danau Tolire, Pantai Sulamadaha, Jikomalamo hingga empat kesultanan: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Pulau Morotai dengan peninggalan Perang Dunia II, serta kawasan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur dengan aktivitas pertambangan, juga disebut sebagai bagian dari potensi ekonomi daerah. Sementara Sofifi, menurut Sarbini, memiliki posisi strategis dalam arah pembangunan Maluku Utara.

Kegiatan melukis perahu ini pada akhirnya tidak hanya mempertemukan seniman dan nelayan. Pemerintah berharap badan perahu dapat menjadi medium yang menghubungkan ekonomi, seni, pariwisata, dan cerita tentang Maluku Utara.*(Iksan/red)