Topikberita.id., Ternate – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, meminta seluruh kepala sekolah dan tenaga pendidik meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Sherly bahkan menegaskan, capaian literasi dan numerasi akan menjadi salah satu indikator dalam mengevaluasi kinerja kepala sekolah di Maluku Utara.

Hal itu disampaikan Sherly saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Pendidikan Provinsi Maluku Utara yang berlangsung di Ballroom Hotel Bela, Kota Ternate, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Sherly menyoroti capaian literasi dan numerasi pelajar di Maluku Utara yang menurutnya masih rendah. Ia menyebut skor literasi berada di kisaran 37, sedangkan numerasi sekitar 36 dari skala 100.

Menurut Sherly, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius karena pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar setiap tahunnya.

Ia menyebut dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) yang dialokasikan pemerintah mencapai sekitar Rp180 miliar.

“Jangan setiap hari masuk mengajar hal yang sama, buang doi yang sama, tapi tidak naik. Itu ada yang salah dalam sistem pendidikan kita,” ujar Sherly.

Ia menilai peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik. Sekolah juga perlu membangun karakter serta kemampuan siswa dalam memahami informasi, berpikir, dan menyelesaikan persoalan secara tepat.

Untuk meningkatkan kemampuan tersebut, Sherly mengusulkan agar sekolah menerapkan kegiatan sederhana secara rutin. Salah satunya dengan menyediakan waktu sekitar 5–10 menit setiap hari untuk membaca, memahami bacaan, menulis kesimpulan, serta mengerjakan soal numerasi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, hasil latihan tersebut harus dicatat dan dievaluasi secara berkala agar perkembangan kemampuan masing-masing siswa dapat diketahui secara terukur.

“Jadi ketika menyelesaikan masalah, masalah itu fokus, detail, konkret, tepat sasaran,” katanya.

Selain menyoroti kualitas pembelajaran, Sherly juga meminta kepala sekolah lebih serius dalam mengelola anggaran dan memastikan fasilitas dasar di sekolah terawat serta berfungsi dengan baik.

Ia menyebut sejumlah fasilitas yang harus menjadi perhatian, seperti lampu, kipas angin, proyektor, toilet hingga ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Sherly bahkan memberikan peringatan tegas kepada kepala sekolah yang mengelola anggaran BOSP dalam jumlah besar tetapi tidak mampu memastikan fasilitas sekolah berfungsi dengan baik.

“Kalau saya pergi ke sekolah, sidak, kemudian lampu mati lebih dari satu bulan, UKS kosong, setiap kelas tidak ada kipas angin, setiap kelas tidak ada proyektor, terutama buat mereka yang punya uang BOSP Rp1 miliar ke atas per tahun, langsung hari itu saya telepon Kepala Dinas ganti Kepala Sekolah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sherly menyampaikan rencana menjadikan peningkatan literasi dan numerasi sebagai bagian dari indikator kinerja sekolah mulai 2027.

Kepala sekolah yang tidak menunjukkan peningkatan capaian literasi dan numerasi akan dievaluasi. Sementara kepala sekolah yang mampu menunjukkan peningkatan kinerja akan dipertimbangkan untuk mendapat tanggung jawab lebih besar.

“Kalau skor literasi dan numerasinya tidak ada kenaikan, saya ganti kepala sekolahnya. Yang ada kenaikannya, saya promosi pindah ke sekolah yang lebih besar,” pungkas Sherly.

Sherly mengatakan peningkatan mutu pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi Maluku Utara. Ia berharap semakin banyak putra-putri daerah yang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik, sekolah kedinasan, serta mengisi posisi strategis di pemerintahan maupun dunia usaha.

Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting agar kekayaan sumber daya alam Maluku Utara pada masa mendatang dapat dikelola oleh putra-putri daerah yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing.*(Iksan/red)