Ternate – Pelaksanaan ujian sumatif akhir kelulusan tingkat SMA, SMK, dan SLB dijadwalkan mulai 13 April 2026. Namun, kondisi SMA Negeri 11 Ternate di Kelurahan Mayau, Batang Dua, masih belum sepenuhnya pulih setelah gempa magnitudo 7,6 yang terjadi pada 2 April lalu.

Meski seluruh persiapan teknis ujian telah dilakukan dan panitia sudah dibentuk, pihak sekolah belum memastikan pelaksanaan ujian di dalam ruang kelas. Hal itu disebabkan getaran susulan masih kerap dirasakan warga setempat.

Situasi tersebut turut dirasakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara Abubakar Abdullah saat mendampingi Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda meninjau pengungsi, Sabtu 11 April 2026. Saat berada di ruang guru, getaran kuat kembali terjadi disertai suara gemuruh sehingga rombongan segera keluar bangunan demi keselamatan.

“Di SMA Negeri 11 Batang Dua, alhamdulillah semua sudah siap untuk pelaksanaan. Tetapi situasi kan kita sama-sama melihat dan merasakan, sehingga kami tadi sudah rapat dengan kepsek dan semua, kami menyerahkan kepada kepsek untuk membangun adaptasi, untuk melakukan adaptasi terhadap pelaksanaan ujian,” ujar Abubakar, Sabtu 11 April 2026.

Menurut dia, kondisi psikologis siswa menjadi pertimbangan utama. Jika guncangan masih terjadi berulang, peserta didik dikhawatirkan tidak dapat mengikuti ujian dengan tenang dan optimal.

Karena itu, Dinas Pendidikan menyiapkan sejumlah opsi pelaksanaan ujian darurat. Mulai dari penggunaan tenda sebagai ruang ujian sementara, pelaksanaan secara daring, hingga distribusi soal ke lokasi siswa yang sulit menjangkau sekolah.

“Sehingga ini kita serahkan kepada kepsek untuk bisa membangun adaptasi pelaksanaannya. Apakah bisa digelar. kita akan bantu tenda untuk dibikin ujian di bawah tenda, atau ada siswa yang masih di jaraknya jauh bisa dibikin melalui daring atau dikirimkan soal ke lokasi untuk bisa diisi,” katanya.

Selain ujian, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut juga masih dihentikan sementara. Guru dan siswa dinilai belum siap kembali masuk ke dalam ruangan karena gempa susulan masih terjadi sewaktu-waktu. Sebagian tenaga pendidik juga masih berada di lokasi pengungsian.

Pemerintah daerah pun memastikan dukungan darurat segera diberikan agar proses pendidikan tetap berjalan. Salah satunya dengan penyediaan tenda belajar sementara untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di luar ruang kelas.

“Sehingga tadi sudah disepakati kami akan bantu menyediakan tenda untuk sementara sehingga proses KBM atau kegiatan belajar mengajar siswa bisa dilakukan melalui kegiatan yang ada di luar kelas,” ucap Abubakar.

Saat ini, SMA Negeri 11 Ternate memiliki total 90 siswa, terdiri atas 29 siswa kelas XII, 38 siswa kelas XI, dan 23 siswa kelas X. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menegaskan pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana menjadi prioritas utama.


Sumber: RRI Ternate